
Ngomongin pragmatisme dan idealisme, saya punya deskripsi tentang sifat sebagian besar mahasiswa dari taun ke taun berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang mahasiswa veteran.
Mahasiswa Taun ke 1 = Masih idealis, banyak mimpi, anti pragmatis, pengen jadi agent of a change
Mahasiswa taun ke 2 = Masih idealis, cuma banyak diserang dengan lingkungan pragmatis, mulai galau
Mahasiswa taun ke 3 = Sangat galau, apa harus tetep idealis atau jadi pragmatis, ditaun ini dia akan memilih
Mahasiswa taun ke 4 = yang masih kuat idealisnya tetep idealis, namun lebih banyak yang jadi pragmatis
Yapp disadari atau tidak, begitulah sifat sebagian besar mahasiswa di Indonesia, yang setiap tahun selalu berubah-rubah. Dari deskripsi tersebut saya jadi teringat kata-kata orang tua saya, konon katanya hidup itu “jangan terlalu idealis banget”.
Di satu sisi ada juga orang tua yang bilang “nak, kamu itu harus punya cita-cita tinggi, jangan terlalu realis, harus punya idealisme biar kamu bisa jadi orang besar”.
NAH di satu sisi nih motivator juga bilang,”jangan setengah-setengah dalam memilih sesuatu”, nah lo?? terus eyke harus gimana nih?, memilih jadi mahasiswa yang ngikut arus (pragmatis) apa idealis aja nih? #bengong deh. 
Perlu diketahui sebagai mahasiswa angkatan veteran, banyak banget teman-teman saya yang selalu bingung mencari jalan hidup, begitu pula saya, banyak teman-teman yang bingung apakah harus tetap meneruskan idealismenya atau pasrah dan nerima kenyataan dan menjadi pragmatis,.
Menurut pandangan saya sih kedua paham itu GA ADA YANG SALAH. Mau jadi mahasiswa yang pragmatis silahkan aja, dan kalo mau jadi mahasiswa idealis juga terserah anda. Bukannya kedua paham tersebut itu punya benang merah yang sama ya? kan sama-sama media menuju kebahagiaan. Bedanya ada yang nyari kebahagiaan dengan sifat idealis, ada juga yang pragmatis. Intinya mau jadi orang pragmatis atau idealis ga ada yang salah.
“Nah terus yang paling baik yang mana?” “Apa yang harus saya pilih?”
Saya yakin anda pasti bertanya-tanya nih. Intinya begini, ketika anda memutuskan ingin menjadi mahasiswa seperti apa (idealis atau pragmatis), anda harus tau “kemampuan saya itu dimana sih?”. Apakah anda punya kemampuan untuk menjadi orang idealis? atau mempertahankan idealisme anda? nih dikasih contoh deh.
Kalo anda adalah mahasiswa berprestasi, punya semangat belajar tinggi, ataupun sangat pintar, mungkin anda punya IPK 4.0 dan jago bahasa inggris, rajin, bangun pagi, rajin ibadah, selain itu anda bisa memimpin, dan mungkin relasi orang penting juga banyak. Lalu anda punya idealisme untuk membuat sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang otomotif setelah lulus kuliah atau membuat sebuah organisasi pendidikan untuk membantu saudara kita yang kurang difasilitasi di timur sana.
Apakah harus tetap idealis? YA HARUS karena anda punya kemampuan yang luar biasa kok, ngapain juga nurunin kualitas diri? kadang banyak orang yang ga sadar ama kemampuannya dan melupakan idealismenya, padahal mereka punya kualitas yang luar biasa untuk mewujudkan idealismenya.
Di sisi lain, anda dari kuliah biasa-biasa aja, kupu-kupu(kuliah pulang-kuliah pulang), 4K, tiap hari bangun siang, nilai kuliah pas-pasan, dan ga ada mimpi besar. Mahasiswa tipe ini banyak banget sih ditemuin hehe, boro-boro jadi idealis, la biasanya mereka juga ga punya mimpi besar untuk merubah lingkungan, adanya cuma mimpi terhadap diri sendiri, itu juga ga besar mimpinya. Jika anda adalah orang dengan tipe seperti ini, terserah anda mau jadi idealis, tapi saya yakin orang seperti ini lebih baik jadi mahasiswa pragmatis aja deh. Cepet lulus, gedein IPKnya, banyak bergaul, trus nyari kerja. Karena menjadi idealis tu ga gampang, source awal dari dalam diri kita harus bagus, kalo udah kacau dari awal, sangat sulit ngerubahnya, kecuali anda emang bener-bener ingin merubah diri anda.
“Lalu kaum pragmatis ga bisa melakukan hal yang dilakukan seorang agent of change dong?”
tunggu dulu agent of change menurut anda apa dulu? emang agent of change itu cuma saat jadi mahasiswa aja?
Katakanlah ada seorang pragmatis kuliah dan cepet lulus, IPK memuaskan, nyari kerja, dan akhirnya kerja di bank, dia masih bisa kok menjadi seorang agent of a change, caranya banyak banget, bisa dengan bekerja seprofesional mungkin, disiplin waktu, tidak korupsi, menghargai lingkungan kerja, itu saja sudah menjadi seorang agent of change kok, seenggaknya buat diri sendiri dan lingkungannya dia. Kalo mau membawa perubahan ke orang lain yang lebih besar?, ya coba aja berbagi ilmu tentang ilmu waktu kuliah dulu atau bikin tips dan trik tentang pengalaman mencari kerja ala anda di blog, forum, dll. Yang nantinya bisa dibaca sama seluruh mahasiswa seluruh Indonesia, ujung-ujungnya dapet ilmu deh mereka. Itu juga udah bagian dari menjadi agent of change loh. Simpel tapi bermanfaat buat orang banyak. See? become a pragmatis, it doesn’t mean that you can’t do anything useful for others.
Inti dari tulisan diatas adalah, kita bebas mau jadi apa aja yang kita mau, jadi IDEALIS atau PRAGMATIS, itu pilihan. Yang pasti saat memilih kita tau diri kita itu cocok di jalur yang mana dan jangan sampai salah memilih. Yang harus tetep kita lakukan saat menjadi seorang yang idealis ataupun pragmatis adalah tetap mempunyai rasa untuk BERBAGI MANFAAT kepada orang lain, berbagi ilmu dan kebahagiaan yang telah anda dapatkan kepada orang lain !.
Salah satu contoh nyata media yang BERBAGI MANFAAT kepada orang lain adalah portal karir ECC UGM yang tidak hanya memberikan info karir yang bermanfaat, namun juga memberikan tips, dan pengetahuan tentang sifat profesionalisme, dunia karir, dan soft skill melalui artikel-artikel di website mereka ataupun kultwit dari akun twitter mereka. Dengan ilmu dan informasi yang bermanfaat tersebut, ECC UGM telah menerapkan sebuah tindakan dari seorang agent of change dan secara tidak langsung membuat para pembaca dan member-member lainnya seperti saya terdidik dan terinspirasi untuk menjadi the next agent of change.
Di akhir paragraf ini saya ingin menekankan kembali bahwa agent of a change tidak harus menjadi orang terkenal, jadi menteri, atau CEO bank dunia. Menjadi agent if change juga tidak harus menjadi seorang yang punya idealisme tinggi, orang pragmatis juga bisa, caranya Simpel saja !! berbagi ilmu dan kebahagiaan yang udah kita dapatkan kepada orang yang membutuhkan itu juga termasuk salah satu kegiatan dari seorang agent of change kok. jadi agent of change juga tidak harus dilakukan saat jadi mahasiswa aja, setelah lulus pun anda juga masih dan tetap harus melakukan hal layaknya seorang agent of change. Jadi tentukan pilihan dan bagilah suatu manfaat kepada orang lain, cause you’re the real agent of change.
salam,
Follow Me